Setiap program kerja dalam sebuah organisasi selalu punya cerita di baliknya. Ada diskusi panjang, perbedaan pendapat, bahkan keraguan sebelum sebuah ide benar-benar bisa diwujudkan. Hal yang sama juga terjadi pada lahirnya Anvaraya by Design, brand hijab yang menjadi salah satu karya dari CSSMoRA IIQ Jakarta.
Anvaraya
tidak lahir secara instan. Ia bermula dari sebuah ide sederhana yang muncul
dalam diskusi Departemen Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSDE). Dari gagasan
kecil itu, lahir mimpi bersama yang perlahan diwujudkan melalui proses
perencanaan, kerja keras, dan semangat kebersamaan.
Lebih dari
sekadar produk, perjalanan Anvaraya menjadi bukti bahwa sebuah ide bisa
berkembang menjadi karya nyata ketika dikerjakan bersama.
Awal
Mula Anvaraya
Gagasan
untuk membangun brand ini muncul saat Departemen PSDE sedang menyusun
program kerja. Dalam salah satu diskusi awal, Kepala Departemen PSDE, Ezraluna,
mengusulkan ide untuk menghadirkan sebuah brand yang dapat menjadi karya nyata
sekaligus memiliki nilai manfaat.
Setelah
melalui berbagai pertimbangan, hijab akhirnya dipilih sebagai produk yang
paling relevan. Selain menjadi kebutuhan utama bagi muslimah, hijab juga
memiliki peluang besar untuk dikembangkan dari sisi desain dan
kreativitas.
Lingkungan
IIQ Jakarta yang seluruh mahasiswinya merupakan perempuan semakin menguatkan
keyakinan bahwa ide ini memiliki potensi besar. Dari situlah kemudian lahir
kesepakatan untuk membangun sebuah brand hijab bersama yang diberi nama
Anvaraya.
Dari Ide
Menjadi Rencana
Pada
awalnya, keraguan sempat muncul. Membangun sebuah brand tentu bukan hal
yang sederhana. Banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari konsep produk,
desain logo, produksi, hingga strategi pemasaran.
Apalagi
sebagai kepengurusan pertama di CSSMoRA IIQ, Departemen PSDE harus memulai
semuanya dari nol tanpa pengalaman sebelumnya.
Namun,
keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan ketika melihat semangat
teman-teman dalam departemen yang begitu besar. Diskusi panjang menjadi bagian
penting dalam proses ini. Perbedaan pendapat pun sering terjadi, tetapi justru
di situlah setiap anggota belajar untuk saling mendengarkan dan mencari
keputusan terbaik bersama.
Semangat
kebersamaan inilah yang akhirnya membuat Departemen PSDE berani menjadikan ide
tersebut sebagai program kerja resmi.
Tantangan
dalam Prosesnya
Perjalanan
Anvaraya tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar
adalah mencari konveksi yang tepat. Tim sempat beberapa kali berganti pilihan
karena sulit menemukan mitra produksi yang sesuai dengan konsep dan standar
kualitas yang diinginkan.
Selain itu,
proses pembuatan logo juga memerlukan waktu yang cukup panjang. Logo tidak
hanya dilihat sebagai elemen visual, tetapi juga sebagai identitas yang
mewakili nilai dan semangat dari brand ini.
Dalam
prosesnya bahkan sempat muncul berbagai alternatif rencana produksi. Namun
setelah mempertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya, akhirnya diputuskan untuk
tetap melanjutkan produksi di satu konveksi dengan beberapa penyesuaian.
Dari proses
ini, Departemen PSDE belajar bahwa membangun sebuah brand bukan selalu
tentang mewujudkan semua keinginan secara sempurna, tetapi tentang menyesuaikan
diri dengan kondisi tanpa kehilangan tujuan utama.
Nama
Anvaraya sendiri diambil dari nama Kabinet kepengurusan pertama CSSMoRA IIQ,
yaitu Kabinet Anvaraya. Pemilihan nama ini menjadi bentuk penghormatan
sekaligus upaya untuk menjaga semangat kabinet tersebut agar tetap hidup
melalui sebuah karya nyata.
Dengan
demikian, Anvaraya bukan sekadar brand hijab, tetapi juga simbol
kebersamaan, perjuangan, dan semangat kepeloporan dari generasi pertama CSSMoRA
IIQ.
Saat
Ide Menjadi Nyata
Momen launching
Anvaraya menjadi salah satu titik paling berkesan bagi Departemen PSDE. Setelah
melalui proses yang cukup panjang, melihat brand ini akhirnya benar-benar
terwujud memberikan rasa haru sekaligus kebanggaan tersendiri.
Sebuah ide
yang awalnya hanya berupa diskusi kini hadir sebagai karya nyata. Kebahagiaan
itu semakin terasa ketika produk Anvaraya mulai mendapatkan respons positif
dari para pembeli.
Bagi
Departemen PSDE, Anvaraya bukan hanya tentang selembar kain yang dikenakan. Ia
menjadi ruang untuk belajar, bekerja sama, dan bertumbuh bersama.
Ke depan,
Anvaraya diharapkan dapat terus berkembang, semakin berkualitas, serta menjadi legacy
yang dapat dilanjutkan oleh generasi CSSMoRA IIQ berikutnya.
Karena pada
akhirnya, setiap mimpi yang dikerjakan dengan niat tulus dan semangat
kebersamaan akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi nyata.
Penulis: Departemen PSDE 2024-2025

No comments:
Post a Comment